Afterthought (3)

mereka melupakan masa sekarang sehingga mereka tidak hidup seolah tidak akan pernah mati, dan mereka mati seolah mereka tidak pernah hidup…..

Advertisements

••• Wawancara dengan Tuhan •••

 

Dengan titel yang baru saja saya peroleh sebagai jurnalis, saya memutuskan untuk membuat prestasi.

masuk,” Tuhan berkata kepada saya, “jadi, kamu ingin mewawancarai Aku?”

jika Engkau mempunyai waktu,” kata saya.

Ia tersenyum dan berkata: ”WaktuKu disebut keabadian dan itu cukup untuk melakukan segala sesuatu. Pertanyaan-pertanyaan apa yang kamu miliki dalam pikiranmu untuk ditanyakan kepadaKu?

tidak satu pun yang baru untukMu. Satu hal apa yang paling mengejutkan Engkau mengenai umat manusia?

Ia menjawab: “mereka bosan menjadi anak-anak, tergesa-gesa menjadi dewasa, dan kemudian rindu menjadi anak-anak lagi. Mereka menghilangkan kesehatan mereka sendiri demi uang dan kemudian kehilangan uang untuk mengembalikan kesehatan mereka. Karena terus khawatir mengenai masa depan, mereka melupakan masa sekarang sehingga mereka tidak hidup seolah tidak akan pernah mati, dan mereka mati seolah mereka tidak pernah hidup…..

TanganNya menggenggam tangan saya dan kami terdiam.

Setelah beberapa lama, saya berkata, “bolehkah saya mengajukan pertanyaan lain? Sebagai Tuhan, apa yang akan Engkau minta hamba-hambaMu lakukan?

Ia menjawab sembari tersenyum, “
Untuk belajar bahwa mereka tidak dapat membuat siapa pun mengasihi mereka. Apa yang dapat mereka lakukan adalah membiarkan diri mereka dikasihi.

Untuk belajar bahwa membutuhkan bertahun-tahun lamanya untuk membangun kepercayaan dan beberapa detik untuk menghancurkannya.

Untuk belajar bahwa apa yang paling bernilai bukanlah apa yang mereka miliki dalam kehidupan, tetapi siapa yang mereka miliki dalam kehidupan.

Untuk belajar bahwa tidak baik membandingkan diri dengan orang lain. Akan selalu ada orang lain yang lebih baik atau lebih buruk daripada mereka.

Untuk belajar bahwa orang yang kaya bukanlah orang yang memiliki segala hal, tetapi orang yang membutuhkan paling sedikit.

Untuk belajar bahwa mereka seharusnya mengendalikan sikap mereka, atau sikap itu akan mengendalikan mereka.

Untuk belajar bahwa hanya diperlukan waktu beberapa detik untuk membuka luka yang amat dalam pada diri orang yang kita kasihi, dan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menyembuhkannya.

Untuk belajar memaafkan dengan mempraktikkan pengampunan.

Untuk belajar bahwa ada orang-orang yang sangat mengasihi mereka, tetapi tidak tahu bagaimana menunjukkan itu.

Untuk belajar bahwa uang dapat membeli segala sesuatu kecuali kebahagiaan.

Untuk belajar bahwa sementara mereka merasa marah, mereka tidak berhak membuat orang di sekeliling mereka ikut marah.

Untuk belajar bahwa mimpi-mimpi besar tidak membutuhkan sayap-sayap besar, tetapi sebuah penahan untuk mendarat.

Untuk belajar bahwa teman sejati itu langka, dan ia yang telah menemukan teman sejati telah menemukan harta yang sesungguhnya.

Untuk belajar bahwa tidaklah cukup mereka dimaafkan orang lain, tetapi mereka perlu memaafkan diri sendiri.

Untuk belajar bahwa mereka adalah tuan dari apa yang mereka simpan dan hamba dari apa yang mereka katakan.

Untuk belajar bahwa mereka akan menuai apa yang mereka tanam, jika mereka menanam gosip, mereka akan memanen tipu daya, jika mereka menanam kasih mereka akan memanen kebahagiaan.

Untuk belajar bahwa kebahagiaan sejati tidak dapat dicapai dengan meraih tujuan, tetapi untuk belajar menjadi puas dengan apa yang telah dicapai.

Untuk belajar bahwa kebahagiaan adalah sebuah keputusan. Mereka dapat memutuskan untuk merasa bahagia dengan apa adanya mereka dan apa yang mereka miliki, atau mati akibat rasa iri dan kecemburuan karena merasa kurang.

Untuk belajar bahwa dua orang dapat memandang hal yang sama dan melihat sesuatu yang berbeda sama sekali.

Untuk belajar  bahwa mereka yang jujur dengan diri sendiri tanpa mempertimbangkan konsekuensinya akan memperoleh lebih dalam hidup.

Untuk belajar bahwa meski mereka mungkin berpikir tidak mempunyai apa pun untuk diberikan, ketika seorang teman menangis bersama mereka, mereka mendapat kekuatan untuk menentramkan rasa sakit.

Untuk belajar bahwa dengan mencoba menggenggam erat orang yang dikasihi, mereka dengan segera mendorong mereka pergi; dan dengan melepaskan orang yang dikasihi, mereka akan bersama selamanya.

Untuk belajar bahwa meskipun kata ‘kasih’ memiliki banyak arti berbeda, ia kehilangan nilai ketika terlalu ditekankan.

Untuk belajar bahwa jarak terdekat yang harus mereka tempuh untuk mencapaiKu adalah sejarak do’a.”

 

Sumber : Buku “Mr. Positive versus Mr. Negative” oleh Praveen Verma.(edited)

 

Author: Adamina Islam

both extrovert and introvert 😌

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s