Bersabarlah, Wahai Temanku..

Ini adalah sebuah cerita tentang temanku. Ini juga sebuah cerita sebelum hari Ibu..

Advertisements

Dia teman dekatku semasa kuliah. Yang aku tau, ibunya sudah lama sakit. Akupun belum pernah bertemu langsung dengan beliau. Yang aku tau, temanku telaten merawat dan menunggui ibunya yang sedang sakit. Bahkan mulai dari awal kuliah.

Sejujurnya, aku tidak ingin mengungkit ini, karena bawaanku yang terlalu overthinking.
ceritanya saat ini aku baru saja pulang dari rumahnya. Ekspresinya masih tersimpan dipikiranku, yang membuatku terus berpikir dan berusaha bersyukur dengan keadaan yang ada.

Ketika aku tau, ibunya meninggal.
Aku jujur sangat sangat sangat kaget! Tak terduga rasanya….
karena beberapa hari lalu aku sempat membahas penyakit yang berkaitan diderita oleh ibu temanku tersebut. Dan tanpa sadar aku memikirkan ibunya dan berpikir singkat “kira-kira bagaimana kabar ibunya ya?” kemudian langsung lupa oleh pembicaraan lanjut saat itu.

Dan ketika aku juga sadar, itu juga hari dimana ibunya meninggal. Singkat cerita aku terlambat mengetahui berita duka tersebut. Aku sempat kaget apalagi dengan keadaan baterai hp-ku yang low untuk mengabari teman-teman yang lain.

Malam ini aku merenungkan kejadian yang ada, tentang kebesaran Sang Maha Pencipta. Tentunya Dia yang mengatur segalanya di alam semesta ini. Temanku sudah diterima kerja di luar pulau. Pekerjaan yang menjanjikan! Namun ada suatu hal yang membuat keberangkatan tersebut harus ditunda. Menjadi awal tahun depan.

November adalah bulan dimana kami wisuda. Ibunya pasti merasa senang karena anak bungsunya bisa lulus kuliah strata satu. Kemudian dia juga sudah diterima kerja, ya memang harus menunggu tahun depan. Tapi jika saja dia sudah berangkat, tentunya akan sangat menyedihkan mendengar kabar duka ketika kita berada di tanah perantauan. Dalam kata lain, ini sudah diatur oleh Allah.

Mungkin Allah memberikan waktu temanku untuk memulihkan rasa sedih di hatinya, sebelum akhirnya dia berangkat merantau. Aku berharap, di sela-sela kesibukan, temanku tersebut bisa sedikit demi sedikit melepas kepergian beliau. Karena ini adalah seorang Ibu. Wanita yang sangat bersejarah dan mengagumkan bagi anak-anaknya.

Aku benar-benar tak sanggup membayangkan, karena jika memang sudah waktunya, kematian itu pasti terjadi. Dan yang pasti, Allah sudah merasa bahwa temanku tersebut sanggup menerima beban ini. Dalam kata lain untuk meningkatkan derajat temanku, jika dia bersabar.

Aku menulis ini tanpa meminta persetujuan temanku yang bersangkutan. Oleh karenanya aku tidak menulis namanya. Ini adalah sebuah kisah yang membuatku merenung lebih lama. Karena pada saat yang sama, hubunganku dengan ibuku sedang tidak baik : (
aku terlalu takut untuk memulai bicara, dan aku terlalu tidak ingin mendengarkan dia marah-marah. Namun disisi lain, aku ingin untuk sangat mensyukuri keberadaan malaikat tak bersayap, ibuku, yang sedang marah padaku. Membuatku lebih banyak diam dirumah dan tidak tau harus bagaimana.

Untuk temanku, bersabarlah… dan maaf, hanya ini yang bisa aku katakan. Aku hanya mampu membantu dengan do’a. yang diperlukan beliau saat ini adalah kesholehanmu, ke-taat-an kepada sang Pencipta serta  kebaktianmu terhadap kedua orang tuamu.

Untuk temanku, semangatlah… kehilangan kerap membuat kita gak mood ngapa-ngapain. Semua terasa hambar dan tidak menyenangkan. Tapi percayalah, ibumu sekarang sedang beristirahat setelah sekian lama merasa sakit di dunia. Semoga segala rasa sakitnya dapat menggugurkan dosa beliau.

Untuk temanku, perjalanan kita masih panjang.. meskipun kita tak pernah tau kapan ajal menjemput.. meskipun kita tak pernah tau kapan terakhir kali kita bisa bertemu dengan orang yang kita sayang..

Untuk temanku, tenangkan hatimu dengan kembali kepada Allah… sejatinya kita tidak pernah memiliki apapun. Bahkan diri kita bukan milik kita sendiri. Kita semua milik Allah, dan akan kembali ke Allah.. maka persiapkan juga bekal kebaikan untuk kehidupan selanjutnya yang pasti lebih kekal..

Untuk temanku, berbahagialah… dimanapun kita berada, kita tidak akan pernah sendiri, karena Allah sayang dan selalu menemani..

Untuk kita yang saat ini masih memiliki Ibu, sayangilah ia, hormati ia, muliakan ia, peluklah ia, dan jangan sia-siakan beliau.. karena beliau adalah pintu Rahmat dari Allah yang selalu menyertai kebaikan kita…

Dari temanmu, yang suka nyasar di jalan.

 

 

Author: Adamina Islam

both extrovert and introvert 😌

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s