Ada Apa Dengan “Menari Dibawah Hujan”?

apa responmu ketika kamu jalan kaki dan hujan turun?

Advertisements

Sempet dijadikan bahan guyonan teman-teman ketika dulu title blog ini adalah “Menari dibawah Hujan”..
jujur awalnya aku mau pake Bahasa Inggris, jadi mungkin bakal jadi gini “Dancing In The Rain” -_- tapi kok jadi absurb yah :’D

akhirnya aku memutuskan pake Bahasa Indo aja. Mengapa “Menari dibawah Hujan?”

image

mungkin ada beberapa orang yang pernah atau sering mendengar, atau mungkin itu dikira asal nulis aja.. padahal aku memiliki beberapa alasan pribadi dengan kata-kata tersebut 😀

Berawal dari mood-ku yang sedang tidak baik hari itu. Aku menghapus blog lamaku karena aku terlalu merinding dengan isinya yang serba masa lalu. Serba bahagia yang semu. Serba nggak sadar dan serba polos, hahaha mulai dari kesenanganku, cerita fiksi, ber-seri, dll dsb..
aku hapus, delete, musnahkan, bumi hanguskan, pokoknya hilanglah….
Lenyap… lenyap….
Dan saat itu-pun aku memiliki permasalahan pribadi yang membuat kelabu hari-hariku.
Hingga membuatku perlu motivasi baik itu dari blog orang, buku psikologi, streaming youtube Dr. Zakir Naik, yang efeknya cukup memotivasi dan bikin nggak kepikiran lagi (meskipun dalam jangka pendek)..

Dan ketika baca tentang psikolog, aku lupa buku apa, disitu membahas tentang hujan.
Menggambarkan kalau hujan itu dalam psikologi digambarkan sebagai masalah/problem. Kemudian bagaimana kita menyikapi kondisi hujan itu? Ada yang berjalan dibawah hujan tanpa menggunakan payung atau jas hujan, ada yang menggunakan payung, ada yang berlari mencari tempat berteduh, dan tiap orang memiliki pemikiran dan pendapat lain tentang hujan.
Sementara aku, aku memilih berjalan biasa saja dibawah hujan, tanpa payung, tanpa jas hujan. Entahlah, itu hanya terbesit saja. Karena aku berpikir, jika hujan diibaratkan masalah atau beban hidup kita, semuanya harus kita hadapi dong. Biarin aja, let it flow…………………………

Tapi ternyata itu menunjukkan tingkat depresi kita.  Yang ternyata sama seperti di Drama Korea “Entertainer”.
Ceritanya di drama tersebut pemeran utama cowoknya periksa di psikiater atau apalah itu jenisnya, kemudian disuruh menggambarkan bagaimana kondisi dibawah hujan. Nah persis seperti apa yang aku bayangkan, dia menggambarkan dia berjalan di bawah hujan, tanpa sebuah pelindung seperti payung dll. Aku sih berpikir ga ada anehnya dengan pilihan dia. Namun ternyata, the result was, dia mengalami depresi, masalah, dan itu semua dia hadapi sendiri. Heeemmm… atau mungkin lebih tepatnya dia tidak memiliki tempat bersandar ketika mengalami masalah tersebut.

Dari hal tersebut sudah dijelaskan mengenai pandangan terhadap hujan. Kemudian menari dibawah hujan? Ya, menari merupakan seuatu respon ketika menghadapi hujan itu sendiri. Kalau aku sendiri menggambarkan menari itu karena nggak mau ambil pusing, berusaha berpandangan positif terhadap masalah yang terjadi. Meskipun tidak mudah.

Menari dibawah hujan. Ketika keadaan terasa sulit dan kita tidak ingin bergantung kepada orang lain. Kita hanya bisa meyakinkan diri sendiri bahwa ini hanya sementara dan semua akan baik-baik saja, sesuai kehendak-Nya.

Menari dibawah hujan. Deras ataupun gerimis. Semua tetap membuat kita basah. Tetap melihat keatas dengan penuh semangat dan percaya diri. Langit yang gelap tidak selalu berarti marah atau sedih.

Menari dibawah hujan. Memangnya kenapa? Tertawa kecil saja. Badai tidak akan selamanya.

Author: Adamina Islam

both extrovert and introvert 😌

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s