From Hijrah to Istiqomah

image

Assalaamu’alaykuum 😚

Based on true story nih..

ini adalah kisah perjalanan hijrahku yang berliku dan naik turun.. adapun tema yang aku pilih ialah “Perjuangan Menghadapi Nafsu Diri”.

Aku bukan anak yang pendiam dan kalem, aku cenderung bersemangat, cerawak, nekat dan ngawur. Waktu SD sih bisa dibilang aku penurut dan nggak aneh-aneh banget. Tapi berbeda dengan masa SMP-ku yang cenderung susah diatur dan cenderung liar -_- sedikit cerita, masa SMP-ku merupakan masa tak terlupakan meskipun sangat ingin kulupakan. Saat itu aku nggak pernah sholat, Astaghfirulloh… aku Cuma sholat kalo disuruh aja, itupun terpaksa.. udah sholat nggak pernah, ngaji nggak pernah, apalagi yang namanya pake kerudung, hadehhh…. Jauuhhhh…. Kumpul-pun sama teman-teman yang bisa dibilang “nggak bener”.

Tapi Alhamdulillah-nya, di lingkungan yang gelap seperti itu aku bener-bener say no buat smoking sama drinking. Entahlah, aku merasa seperti hal itu nggak baik buat diriku, meskipun temen nawarin, meskipun hampir setiap kumpul dan setiap ketemu selalu aja mereka seperti itu. Aku selalu memilih buat enggak melakukan hal itu.

Masa SMP-pun berlalu, kemudian pada tahun 2009 pertengahan aku masuk ke jenjang yang lebih tinggi, SMK. Disana bisa dibilang temannya lebih bener lah daripada jaman SMP. Tapi masih aja yang namanya kumpul temen tetep ketemu sama mereka-mereka lagi. Dan saat itu aku udah mulai berani pacaran. Saat itu, pacarku merupakan salah satu teman jaman kumpul SMP. Kita berbeda 5 tahun. Aku SMK dan dia sudah kuliah. Aku anggap itu hal yang bisa menenangkan batin, karena rasa suka sama suka. Jujur saja, aku tidak pengalaman dalam hal pacaran yang benar-benar pacaran. Jadi aku sangat polos untuk mengetahui hal itu.

Saat SMK, sholatku sudah mulai membaik meskipun aku jarang sholat subuh. Karena aku susah bangun pagi. Bawaan suka begadang masih aja nempel dan bikin jarang sholat subuh. Dan saat SMK, aku juga mulai memakai kerudung, yaa meskipun kadang masih copot pake kalo keluar rumah.

Awal mula pake kerudung, ada gejolak yang bener-bener besar dan bikin pro-kontra pikiranku sendiri. Aku merasa nggak cocok dan terlihat ‘tua’ saat memakai kerudung. Aku merasa udah nggak bisa bergaul lebih jauh lagi sama temen-temen kumpul jaman SMP. Aku merasaaa……. nggak nyaman pakai kerudung karena aku terbiasa umbar-umbar auratku, aku terbiasa pake celana pendek, aku terbiasa pake kaos lengan pendek, bajuku semua jadi banyak yang nggak kepake karena aku harus pakai kerudung. Adapun baju dengan lengan ¾ yang saangaaat aku sukai dan itu udah nggak bisa aku pakai lagi. Kalaupun mau pake juga harus pake manset biar nggak kelihatan tangannya.

Tapi saat itu, aku didukung oleh teman-temanku yang juga ‘barengan’ hijrah pake kerudung. Karena ada mereka, aku merasa tenang dan

“okelah, aku bakal coba istiqomah pake kerudung”.

Kemudian ketika pacaran, pacarku sempat bilang bahwa aku kelihatan aneh kalo pake kerudung. Dan dia sempat bilang kalo pacaran juga kerudungnya dilepas aja. Waktu dia bilang gitu, aku Cuma sempat berpikir “kalo aku gak nurutin dia ntar dia nggak suka lagi sama aku, dan aku takut kalo kita putus..” tapi jauh-jauh dilubuk hatiku, justru aku yang ngrasa ilfeel sama dia waktu dia ngomong kayak gitu. Dan akhirnya aku bilang “aku udah memutuskan pake kerudung, susah lho mulainya, kamu jangan bikin aku down dong. Aku juga udah mulai ninggalin kumpulan jaman SMP karena ini.. Nggak papa deh aku kelihatan aneh, ntar juga kamu terbiasa kan?”. Akhirnya dia kayak mau nggak mau dengan keputusanku yang kekeuh pake kerudung.

Cukup lama aku menjalin hubungan sama dia, dan memang kalo udah pacaran malah arahnya jadi ke zina. Ibu sudah berkali-kali memberi tau aku kalo pacaran itu dosa. Dan aku nggak mau dengan nasehat ibu malah menuruti kemauan nafsuku yang selalu ingin apa-apa sama dia. Hingga suatu saat, aku merasa hubungan ini bener-bener bikin dosa dan nggak bisa dilanjutkan. Aku berusaha berpikir matang-matang buat memutuskan hubungan dengan dia, tapi selalu gagal. Aku berusaha berpikir jernih bahwa aku pasti bisa hidup tanpa dia, tapi selalu saja jadinya teringat masa-masa awal kita pacaran. Aku nggak tegas mengambil keputusan. Aku takut sedih kehilangan dia yang meskipun aku tau hubungan kita bukan hubungan yang baik.

Hingga akhirnya, aku bertemu dengan pria lain, yang agama-nya insya Allah bagus. Aku hanya memandangnya dari jauh, dan aku suka. Secara tidak sengaja disitu aku mulai belajar ngaji dan istiqomah baca Al-Qur’an. Aku coba istiqomahkan tahajud karena aku merasa ingin kelak memiliki suami yang baik agamanya. Dalam do’a tahajud-pun aku selalu berdo’a

“ya Allah, aku tidak tegas dalam mengambil keputusan. Aku nggak tau pacarku yang sekarang ini baik atau nggak buat aku dimasa mendatang. Aku ingin putus ya Allah, tapi aku takut aku sedih. Aku nggak mau merasa sedih dan kehilangan dia. Aku nggak mau merasa bersalah kalau sudah putus sama dia. Aku nggak mau ngelihat dia sama cewek lain. Kalaupun memang dia bukan yang terbaik buat aku ya Allah, palingkan dia dariku. Buat dia duluan yang memutuskan aku. Jadi aku tidak bisa berbuat apa-apa selain meninggalkan dia juga.”

Akhirnya aku sudah nggak tahan dan niat buat putus dengan dia, tapi dia gak mau. Berkali-kali lagi aku bilang putus tapi dia bilang gak mau. Namun do’a tahajudku cepat diijabah sama Allah kala itu. Beberapa pekan setelah itu, hubunganku dengan dia merenggang. Dia sering bohong dan gak jelas. Dan kemudian dia menghilang. Dia nggak ada kabar. Namun karena aku disibukkan dengan try-out karena mau UNAS. Aku sedikit teralihkan. Hingga suatu saat ada nomer tak dikenal sms ke aku, dan dia bilang kalau dia adalah pacarnya pacarku. What?? Dia bilang gak mau diputusin tapi kok udah punya cewek lain? Aku tau aku benci banget sama dia, dan hal itu terjadi tiba-tiba yang ada aku malah sedih dan nggak konsen ngerjakan try-out. Berminggu-minggu setelah itu aku galau, aku sedih, dan nggak punya semangat hidup. Dia bilang gak mau putus sama aku tapi dia sudah ada wanita lain. Akhirnya aku merasa benar-benar putus dengan dia meskipun aslinya aku merasa diputusin. Aku merasa sudah dibohongi dan dikhianati sama orang yang pernah aku sayang.

Saat-saat merasa sedih dan galau, adaaa saja pikiran buat balikan, dll… aku berusaha meyakinkan diri bahwa Allah akan mengganti dengan yang lebih baik. Dan kekeuh gak akan pernah pacaran lagi. Aku-pun mulai ikut-ikut kajian meskipun nggak rutin. Hingga suatu saat ketika selesai UNAS pada akhir bulan April 2012, seseorang mengenalkanku dengan ikhwan yang agamanya insya Allah baik, dan aku suka. Kemudian sebelum benar-benar memulai ta’aruf disarankan agar masing-masing istikharoh untuk meminta petunjuk. Namun aku lupa untuk meminta persetujuan ayah atas hubungan ini. Arahnya pasti ke pernikahan, tapi ternyata ayah belum setuju untuk aku menikah secepat itu. Ayah menyarankan untuk aku kuliah dulu s1, kemudian baru bisa menikah. Dan dia-pun bersedia untuk menunggu. Akhirnya fix, aku nggak ngerti ini hubungan apa. Pacaran juga enggak. Ta’aruf tapi kok aneh. Ta’aruf harusnya memiliki proses yang cepat. Nah kuliah 4 tahun itu bukan waktu yang sebentar untuk penantian. Namun saat itu aku benar-benar yakin dia jodohku karena agamanya yang baik dan bersifat membimbing banget ke aku.

Lagi-lagi aku terjerat nafsu dalam diriku sendiri. Aku merasa nggantung dengan hubungan ini, tapi diriku sendiri yang meyakinkan bahwa dia adalah jodohku. Jadi aku santai-santai saja. Aku merasa kita hanya perlu menunggu hingga ayah benar-benar ridho ketika kita menikah nanti. Hingga tiba-tiba ibuku memiliki firasat bahwa dia bukan yang terbaik buat aku. Tentu saja aku tidak percaya, aku sudah semester 6 dan kuliahku akan segera berakhir. Namun permintaan dari ayah bertambah, dari yang sampai lulus kuliah aja, kini ditambah harus sudah kerja baru boleh nikah. Aku merasa terlalu lama membuatnya menunggu. Aku merasa sedih dan bersalah. Aku sholat istikharoh lagi meminta agar dimudahkan jika memang dia jodohku. Namun kenyataannya, ayah semakin kekeuh untuk memintaku bekerja dulu baru menikah. Bahkan ayah memintaku untuk memutuskan saja hubungan dengan dia agar aku fokus dan tidak melulu memikirkan nikah.

Aku kaget dan sedih mendengarnya. Aku marah pada apapun yang terjadi saat itu. Aku tidak terima, kenapa nggak dari dulu aja nolaknya jika memang keberatan. Kenapa harus sekarang ketika aku benar-benar sudah jatuh lagi untuk kedua kalinya.

Aku-pun memutuskan untuk gencar-gencarnya sholat istikharoh lagi. Dulu awal hubungan ini dimulai, aku merasa istikharoh-ku tidak memberi jawaban yang jelas, karena aku sudah keduluan “iya” dan “suka”. Karena aku terlepas dari sakit hati dan putus cinta dengan pacarku saat itu, ugh. Bahkan di tiap selesai sholat aku selalu berdo’a:

“ya Allah, aku memohon pilihan dengan ilmu-Mu, aku memohon anugerah dengan kuasa-Mu, dan aku memohon karunia-Mu yang Agung.

Sesungguhnya Engkau Maha Berkuasa, sedangkan aku tidak. Engkau Maha Mengetahui, sedangkan aku tidak. Dan Engkau Maha Mengetahui perkara yang gaib.

Ya Allah, jika memang dia adalah yang terbaik untukku dalam urusan agama, dunia, akhirat, dan kesudahan urusanku, maka takdirkan ia untukku, mudahkan ia bagiku dan berkahilah urusanku dengannya.

Namun, jika dia bukanlah yang terbaik untukku dalam urusan agama, dunia, akhirat dan kesudahan urusanku, maka palingkan dia dariku, dan palingkan aku darinya. Tetapkan bagiku kebaikan apapun dan jadikanlah aku meridhoinya.”

Dan beberapa bulan kemudian, dia-pun menginginkan titik terang dari hubungan kami. Dia berencana meng-khitbah setelah lebaran tahun 2015 saat itu. Namun apa yang terjadi? Dia sudah memutuskan hubungan ini ketika pertengahan bulan Ramadhan. Dia bilang untuk tidak jadi mengkhitbah dan mengikhlaskan aku. Dalam kata lain, ini sudah berakhir. Semacam ada angin lewat dalam relung hatiku, membuatku lemas dan tak mampu lagi berkata-kata.

Ya, aku memang salah. Aku selalu mendahulukan nafsuku ketika akan berbuat bahkan dalam sebuah pilihan dan perkara penting seperti ini. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku masih bingung dan kaget dalam hal ini. Lagi-lagi ibuku benar. Dan aku hanya bisa menangis seharian.

Dalam kejadian-kejadian ini aku berpikir pasti ada hikmahnya. Dan jangan mendahulukan nafsu ketika akan berbuat dan memilih. Hingga akhirnya aku memilih hijrah, bangkit dan tidak ingin terpuruk karena masa lalu. Allah pasti akan mengampuni dosaku. Lalu aku bertaubat nasuha dan berjanji tidak mengulanginya lagi. Aku masih menutup hati dalam hal memilih pasangan. Aku bergabung dalam komunitas Islam untuk menggali potensi diri dan memperluas koneksi. Mulai ikut dalam kajian rutin, sholat Sunnah untuk menenangkan hati. Membaca Al-Qur’an dan mengikuti group 1 Day 5 Paper agar bisa istiqomah dan semangat baca meskipun aku sadar imanku naik turun. Aku sadar, meskipun awalnya aku melakukan hal seperti ikut kajian, sholat Sunnah, baca Al-Qur’an, puasa Sunnah dll adalah untuk menenangkan diri ketika galau, ternyata hal itu bisa banget mengisi kekosongan hatiku. Oleh karenanya aku berusaha banget buat istiqomah. Meskipun sangat males awalnya buat memulai. Tapi aku harus melawan diri sendiri. Aku terus berusaha mengendalikan nafsu dalam diri dan mencari kumpulan teman-teman yang baik. Tak lupa selalu berdo’a dan nurut sama orang tua yang instingnya lebih peka 😀

Alhamdulillah, semuanya sudah berlalu dan aku berhasil melaluinya. Perjalananku dimasa mendatang hanya Allah yang tau. Allah akan memberikan yang terbaik di saat yang tepat dan aku percaya itu. Aku hanya harus berusaha sebaik mungkin, muhasabah dan mengetahui banyak hal sebelum semua itu terjadi. Belajar dari pengalaman biar nggak jatuh di lubang yang sama dua kali.

Allah Maha Pengasih, Allah Maha Penyayang, Allah Maha Berkuasa..

Ya Allah, aku serahkan hidup dan matiku pada-Mu…

Tuntun dan bimbing aku menuju jalan yang Engkau Ridhoi….

Fin~

Advertisements

Author: Adamina Islam

both extrovert and introvert 😌

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s