What The… You! (Part 1)

Ziya…

Advertisements

WTY 1

Ziya kepada Pembaca:

Kenalkan, Namaku Ziya, biasa dipanggil Zi atau Ya. Aku gadis berumur 21 tahun yang lagi on fire buat mengerjakan skripsi dan cari penghasilan. Aku kuliah semester 6 jurusan DKV. Aku ikut berorganisasi, memiliki banyak teman namun memiliki kepribadian sedikit tidak menyenangkan. Ya, aku memang suka menilai seseorang hanya dari penampilannya. Ya, aku memang biasa menilai seseorang dari kesan pertama. Tapi itu sejujurnya hanya penilaian yang nempel sepersekian detik di otakku. Setelah itu, buyar, hilang entah kemana. Dan aku tidak peduli bagaimana lagi aku akan bertemu dengan orang-orang yang sudah kunilai secara singkat tadi.

Aku tergolong gadis yang cerdas dan sangat idealis. Aku hampir tidak pernah menemui kesulitan dalam belajar dan berkonsentrasi. Aku senang membantu temanku yang lain belajar, namun karena aku termasuk anak yang sarkas ketika berbicara dan bertindak, banyak dari mereka yang baper dan terluka karena kata-kataku. Aku tidak begitu mempedulikan perasaan orang lain. Karena niatku membantu mereka belajar, bukan membantu memahami perasaan mereka.

Aku bisa saja menyelesaikan skripsiku dalam kurun waktu 2 minggu. Namun hal itu tidak terjadi, karena aku harus menyelesaikan kegiatan event organisasi, proyek desain logo, editing video, dll. Aku memang tidak sepintar Oki Setiana Dewi dan aku tidak secantik Ressa Rere. Aku sebenarnya hanya gadis biasa yang apatis dalam lingkunganku, namun tetap berbaur dan aktif berorganisasi.

Aku rasa cukup sekian perkenalannya. Maaf jika banyak yang terdengar arogan. Semoga kisahku menginspirasi.

—o—

Ziya sedang ngenet di laptop dan scroll-scroll untuk mencari inspirasi design.

Membaca artikel:

Hidup setiap orang memiliki warna sendiri, mulai dari menangis ketika lahir, tersenyum, tertawa, menangis bahagia, menangis kesedihan, senyum palsu, senyum malu, marah, kecewa, ekspresi datar, gak mood, daaaan lain sebagainya.

Seperti first impression, ketika kita pertama kali bertemu seseorang, kita pasti memiliki secuplik kesan pertama untuk setiap orang, ada yang langsung suka, ada yang memandang sebelah mata, bahkan ada yang gak kelihatan.

Jodoh, heemmm…. Jodoh hanya Allah yang tau, kecuali kalau kalian sudah bertemu jodoh kalian sendiri.

Jodoh itu gak terduga, kadang jodoh itu bisa dari orang yang awalnya sudah kamu suka, dari orang yang suka sama kamu duluan, dari orang yang kamu pandang sebelah mata, orang kenalan orang tua, orang tetangga sebelah, orang kenal barusan, orang dikenalin, duh pokoknya bener-bener gak terduga.

Bisa jadi, jodohmu itu orang yang kamu suka, atau bisa jadi, dia orang yang awalnya kamu pandang sebelah mata lalu lama-lama kamu jadi suka. Bisa jadi juga, dia orang yang dikenalin orang lain, terus kamu biasa aja, tapi lama-lama jadi suka karena terbiasa. Bisa jadi, jodohmu itu orang yang sering papasan sama kamu ketika kamu ke masjid atau menghadiri majelis taklim.

Tapiii, dari semua kemungkinan dan bisa jadi bisa jadi tadi, jodohmu itu lebih gak terduga, kadang yang putih dapet yang hitam. Yang hitam dapet yang putih. Apanya yang hitam putih? Hahahaaa….. warna bajunya ._.

Bisa jadi yang baik dapet yang buruk, yang buruk dapet yang baik. Masih ingat kisah fir’aun dan istrinya yang shalihah kan? Aisiyah. Semoga kita dimampukan menjadi sebaik-baik hamba Allah dan terus berikhtiar untuk mendapatkan kebaikan dunia akhirat.

“nih blog lama-lama update-nya cinta sama jodoh melulu sih, Duhkah bosenin banget!” sambil terus scroll kebawah. “normal gak sih orang update status galau tiap hari? Omigod omigod…” sambil terus scroll dan ngedumel. Terdengar suara Umi memanggil dari luar kamar mengajak makan malam bersama. “yo’i bentar yaaa Umi, Ziya bentar lagi turun..” sambil membereskan pekerjaan di meja belajarnya. “ah risih, unfollow aja deh daripada bikin sakit mata tiap ngenet baca begituan.” Ziya mengakhiri kegiatan scroll-scroll-nya kemudian mematikan laptop dan lekas turun kebawah.

Di meja makan sudah tersedia tumis daun singkong, tempe goreng dan telur dadar.

“wih makasih yaa Umikuuu, ini kayaknya enak banget.. sumpah Ziya udah laper daritadi nungguin kapan makan malemnya..” sambil mengambil piring dan nasi untuk segera makan.

“lain kali, kalo laper dan pingin cepet makan ya bantuin Umi masak dong Zi. Kamu itu cewek tapi kerjaanmu didepan laptop terus, sekali-kali kamu kudu ke dapur biar tau bedanya garam sama gula..” Umi nasehatin sambil menyiapkan piring untuk Ayah.

“kalo garam sama gula udah jelas beda Mi, hahaha… tapi kan Ziya tadi cari inspirasi Mi, do’ain proyek Ziya yang ini lancar ya Mi..” sambil mulai melahap nasi dan tumis daun singkong yang hangat.

“iyaa, Umi selalu do’akan yang terbaik kok. Gak Cuma buat kamu, buat Ayah, dek Zidane dan semuanya deh.. tapi kamu itu kudunya fokus sama skripsimu juga..” sambil menyiapkan piring dan nasi. “masalah uang saku emang Umi kurang ya kasihnya? Kok kamu gencar banget cari proyekan nak.. ckckck…”

“iya Zi, kamu itu kudu fokus sama skripsimu. Banyak tuh temen-temen ayah di kantor yang skripsinya ditinggal karena udah ke-enakan sama kerjaannya.” Ayah berbicara tanpa melihat ke Ziya, masih fokus dengan nasinya di piring.

“ini bukan masalah uang saku Mi, ini juga masalah pengalaman Ziya yah. Biar Ziya tau dikit banyak cara cari uang. Biar Ziya nanti bisa mandiri dan membahagiakan Ayah sama Umi.” Ziya menambah tempe goreng di piringnya.

“nanti kalo mbak Ziya udah dapet bayaran, aku beliin topi sama jaket ya Mbak yaa?” tiba-tiba Zidane nimbrung.

“udah ah kamu makan aja dek..” nasi di piring Ziya sudah mau habis.

“ya nanti hasil kerjanya jangan lupa di-amalkan dan disedekahkan ya nak. Biar barokah.” Umi terlihat tersenyum dengan ademnya.

“iya Mi, Insya Allah.” Dan makanan di piringku pun habis karena terlalu lapar dan makanan yang sangat enak buatan Umi. Pembicaraan malam itu membuatku semangat dan terdorong buat berusaha dengan sebaik-baiknya.

—o—

Keesokan paginya di Kampus.

“shaaa…… sashaaa….” Ziya berlari menuju teman baiknya di kampus, Sasha.

what?” Sasha menoleh, kemudian panik karena takut Ziya menyambarnya dengan keras. “eh waiiit…!!!” Sasha mencoba membawa dengan erat kertas-kertas revisi di tangannya. Seperti biasa,  Ziya gak bisa selow kalo udah ketemu Sasha yang seketika langsung menyambar dan menggandeng tangan Sasha dengan erat.

“hahahahaa…. Kangen banget ukhti….” Ziya memeluk pundak Sasha dengan gemas. Sasha terlihat masih bingung menyelamatkan kertas revisi-nya. “gak gaaak…. Gak bakal deh berserakan lagi itu kertas revisi-mu sha…”.

“yeee…. Kayak anak kecil aja si pake lari-lari segala Zii. Ntar kalo kamu udah punya suami terus ketemu juga bakal lari kayak gini juga gak?” seketika Ziya melepas pelukannya. “duuh apaan si Sha pake bahas suami segala..” sambil membetulkan tas ranselnya.

“lah emang kenapa kalo bahas jodoh Ziyakuuh.. emang kamu mau single selamanya?”

“ya Allah jahat banget si Sha kata-katanya, hiks…” sambil mewek ngelihatin Sasha.

“ya bercanda lah, ahhaa, kok jadi baper sih.. kamu kebanyakan nonton drama Korea tuh” lirik Sasha.

Ziya melengos dan mengalihkan pembicaraan “eh Sha, tau ada proyek apaan gitu bikin apa atau apa gitu?”

“lagi Zi?”

“iya Sha, ada rekomendasi gak?”

“heem, demi kebaikan skripsi dan masa depanmu Ziya, sebaiknya kamu fokus sama proyek yang lagi kamu jalanin sekarang deh. Kalo semua kamu kerjain kamu bisa sakit ntar..” wajah Sasha khawatir. “ya aku tau, kamu gak pingin kepikiran si itu.. tapi kalo gini caranya yang ada malah keteteran kamunya, aku gak tega Zi..” Ziya terdiam mendengar Sasha.

“Zi…. Kok diem?”

“Makasih ya Sha udah khawatir, tapi aku kok gak pingin bahas itu ya..” wajah Ziya datar.

“okey, aku ga akan bahas Zi. Jadi kamu serius mau cari proyek atau part-time?”

“iya.” Tetap berekspresi datar.

“yaah jangan jutek dong Zi… heemmm yang berlalu udah biar berlalu. Kamu gak boleh sensitif dan lemah kalo ada tema pembicaraan kayak gini..”

Flashback, Ceritanya, aku suka sama ikhwan. Suka banget, tapi aku cuma bisa menyukainya dari jauh. Lalu, 4 bulan yang lalu dia menikah dengan wanita cantik, anggun serta shalihah. Bukan salahnya, itu salahku terlalu dalam sama perasaan yang ambigu. Seketika aku hancur dalam fantasiku sendiri, yang akhirnya memaksaku untuk mengalihkan pikiranku  dan bekerja keras seperti sekarang. Hanya untuk melupakannya.

“iya Sha, aku juga berusaha kok..” Ziya tersenyum ke Sasha.

“nnah, okedeh aku kasih tau kamu kegiatannya dan tugasnya apa ya, nanti kalo kamu srek. Bisa cuss kabarin aku.. okey?”

“uyee Shaa… muakasih loh.. hahaha…”

Kemudian kita masuk kelas dan mata kuliahpun dimulai.

—o—

Hari mulai petang, Ziya hanya tiduran di kamar sambil baca job-desc yang diberikan Sasha. Proyek kali ini tentang membuat majalah. Dari berbagai posisi, Ziya memilih editor. Karena Ziya hanya berpikir editor cuma ngedit-edit artikel yang sudah dikerjain sama penulisnya.

“aahh paling tinggal hapus dikit, edit dikit. Rapiin, selesai. Hahaha asik banget nih kayaknya. Ambil ah jobnya..”

Ziya langsung menghubungi Sasha via Whatsapp. Sambil menunggu respon dari Sasha, Ziya pergi makan malam dibawah bersama keluarga.

Ketika makan malam selesai, Ziya langsung membuka respon chat dari Sasha. Dan informasinya, besok akan diadakan rapat untuk orang-orang yang mengerjakan proyek tersebut.

Chat Whatsapp Ziya dan Sasha:

Ziya : Sha, aku ambil deh..

Sasha : Serius? Udah dibaca semua kan Zi?

Ziya : udaah Sha, kamu juga ikut kan?

Sasha : iya Zi, aku ambil jadi yang ngutip dari narasumber aja deh, hahaha.. kamu?

Ziya : Editor dooonnggg… hahahhaa

Sasha : weits….. gak gampang loh jadi editor Zi.. tanggung jawab karena yang dipake nanti kan hasil editannya.. itupun dari berbagai macam tema tulisan..

Ziya : …

Sasha : ya tapi terserah sih, hehe.. bsk kumpul ya?

Ziya : yo’i. dimandose cyin? Jamber?

Sasha : di Kafe depan Kampus Zi. Jam 4 sore, bareng yak 😀

Ziya : iyooohh….. depan kampus jalan aja yuk Sha..

Sasha : okee…. See you tomorrow Zi..

Ziya : (y)

—o—

Ziya dan Sasha selesai kuliah, dan mereka menuju Masjid Kampus untuk sholat Ashar. Kemudian mereka berjalan kaki menuju kafe depan kampus sambil bercanda ini itu. Ketika mereka sampai di kafe, sudah ada beberapa orang yang akan membantu pembuatan majalah.

Acara perkumpulan pun dimulai. Mereka semua berkenalan satu sama lain dan membahas jenis majalah yang akan dikerjakan. Namun ada mas-mas yang masih menunda pembahasan lebih lanjut karena sedang menunggu orang penting alias atasan yang masih juga belum datang. Katanya sih sudah deket. Jadi kita memutuskan untuk menunggu.

Kemudian terlihat dari sebuah tempat parkir, lelaki umur 25-an berjalan menuju meja mereka dengan tas ransel warna hitam, jaket jeans, rambut klimis biak samping dengan skin dipinggir, brewok tipis-tipis, kaos hitam, sepatu boots coklat. Berjalan menyusuri tempat parkir dan mulai memasuki kafe dengan tegap namun terlihat rileks.

Seperti biasa, Ziya memulai analisis kesan pertamanya. Ziya bergumam “oh jadi atasannya cowok. Dari looks-nya, dia gak begitu Islami, hemmm tapi mungkin baru hijrah. Rambutnya kaya pake pomade, gak kebayang kalo nyopot helm, pasti yang bagian belakang bakal amburadul. Dia perhatian banget sama penampilannya. Kayaknya perfeksionis dan teliti, berjiwa seni banget nih. Tapi lhoo………….. tapi kok lumayan ya..”

—o—

Author: Adamina Islam

both extrovert and introvert 😌

1 thought on “What The… You! (Part 1)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s