Renungan

Pendulum

seperti wahana pendulum yang berputar putar. naik turun. bikin pusing.

tapi tau gak, kalo kita bisa menggambarkan hidup melalui pendulum itu tadi.

hidup itu kadang bikin mabuk. mabuk kebahagiaan atau mabuk kesengsaraan.

sebelum benar² terlahir di dunia, kita pernah memilih untuk menjalani hidup sebagai manusia.

manusia yang tingkatannya bisa dibawah hewan karena menjalani hidup tidak sesuai aturan. atau manusia yang tingkatannya berada diatas malaikat karena hidup berdasarkan aturan dan patuh pada Pencipta. itu kehendak manusia untuk memilih jalannya masing².

hidup itu gak mudah. kamu akan dibuat muak dan sengsara pada hal yang tidak selamanya. atau mungkin kamu akan dibuat terlena dan bahagia pada sesuatu yang tidak seharusnya.

kamu akan berputar putar dari atas kebawah dan merasakan “sensasi” hidup itu sendiri. untuk menguji, seberapa yakin kita pada “pengaman” pendulum tadi.

realitanya, kita hidup pasti bakal pernah habis sedih, tapi masih ada aja lagi masalah gak kelar² yang bikin makin sedih. untuk menguji seberapa yakin kita sama yang menciptakan kita dan memberikan hidup.

pengaman di pendulum belum tentu 100% aman, pasti harus sering di cek dan dipastikan untuk keamanan penggunanya.

tapi, Tuhan, yang menciptkan kita dan seluruh alam semesta ini gak mungkin memberikan rasa sakit tanpa obat. kita selalu ada di genggamannya. tinggal kita mau yakin apa nggak.

kita boleh jadi diputer puter dibolak balik di pendulum tadi, tapi pengaman tetaplah memastikan kita biar kita gak lepas dari situ. seperti Tuhan yang gak mungkin melepaskan kita, terlebih ketika masa² sulit datang.

yang perlu kita lakukan hanya diam menikmati momen itu sambil dalam hati penuh keyakinan dan harus melakukan hal yang benar atau sesuai aturan. kan gak mungkin juga kita begitu aja ngelepasin pengamannya. kecuali kalo orangnya gak sabaran gak kuat dan pingin turun…

Advertisements
Renungan

Hamba Amatiran

hamba amatiran 😐

hamba yang masih memikirkan dunia ketika bangun pagi
hamba yang terlalu takut jika nanti dia tidak bisa mandiri
hamba yang mengatakan cinta Allah, tapi tidak melakukan pendekatan yang berarti
hamba yang diam, dan tidak memanfaatkan waktu yang diberikan

hamba yang mengkhawatirkan hal yang bukan seharusnya menjadi kuasanya
hamba yang menakutkan hal yang belum terjadi
hamba yang terlalu memikirkan uang uang dan uang
hamba yang masih memikirkan pendapat orang lain

hamba yang merasa ingin hkjrah, namun tidak istiqomah
terkadang pelariannya bukan ke kitab suci namun mendengarkan musik

hamba amatiran
masih saja iri dengan kebahagiaan orang lain
masih saja suka membandingkan-bandingkan nikmat sendiri dengan kenikmatan orang lain
bagaimana kamu bisa hidup bahagia jika terus melihat kebahagiaan yg diberikan untuk orang lain
rumput tetangga terlihat lebih hijau daripada rumput sendiri
karena mereka merawat rumputnya sementara kita hanya melihat-lihat

hamba amatiran
hamba yang tidak mampu berserah diri dengan sepenuhnya kepada sang Pencipta

Intermezzo

Ada Apa Dengan “Menari Dibawah Hujan”?

Sempet dijadikan bahan guyonan teman-teman ketika dulu title blog ini adalah “Menari dibawah Hujan”..
jujur awalnya aku mau pake Bahasa Inggris, jadi mungkin bakal jadi gini “Dancing In The Rain” -_- tapi kok jadi absurb yah :’D

akhirnya aku memutuskan pake Bahasa Indo aja. Mengapa “Menari dibawah Hujan?”

Continue reading “Ada Apa Dengan “Menari Dibawah Hujan”?”